image

image

image

image

Ya, benar sekali. Hari ini adalah hari ulangtahunku yang ke 17.

Aku mengutarakan banyak terimakasih kepada keluarga dan teman-temanku yang telah menyampatkan waktunya untuk sekedar menulis, merekam, memublikasi foto, bahkan bermain piano untuk memberi ‘selamat’ dan ‘doa’ yang baik dan sangat manis untuk dibaca. Aku hanya bisa berucap “Aamiin, kau juga.” sebagai balasannya.
Jika kalian bertanya apa hadiah yang aku inginkan, sederhana sekali, kawanku. Aku hanya ingin kalian berdoa untukku dengan tulus. Aku hanya ingin kalian mendapat kebahagiaan bersamaku. Aku hanya ingin kesehatan selalu menyertai kita semua. Aku hanya ingin orangtua kita selalu merasa bangga akan hadirnya kita. Aku hanya ingin kita tetap bersama baik di dunia maupun di surga.

Namun, kawanku, sejatinya bukan aku yang pantas diberi ‘selamat’ atas 17 tahun hadirku di bumi ini.

Lantas siapa?

Ialah Ibuku, kawan. Ibuku yang telah berjuang memertaruhkan nyawanya genap 17 tahun yang lalu. Tak sadarkan diri 12 jam lamanya setelah terjadi kekacauan saat proses kelahiranku. Ia tidak dibius total, hanya sebagian saja. Tak lama, ibuku merasa sakit karena menurutnya obat biusnya telah habis namun dokter tak percaya. Bagiku ini sangat lucu ketika didengar, namun tak pernah terbayang bagaimana rasanya tidak bisa melahirkan secara normal dan harus menahan rasa sakit yang sedemikian hebatnya. -yasmin mencintaimu, ibu!

Ialah Ibuku, kawan. Ibuku yang telah sabar merawat ku sebagai ibu, guru, teman, dan kekasih. Tak pernah sekalipun meminta bayaran atas jam malam yang Ia habiskan saat aku sakit, saat Ia menangis berdoa untuk kebahagiaanku, saat Ia tetap menyempatkan diri untuk membuat sarapan walaupun sedang tidak enak badan, saat khawatir ketika pukul 8 malam aku lupa memberi kabar, dan atas saat-saat lainnya yang Ia lakukan dengan ikhlas.

Sungguh, jika kamu bertanya siapa manusia yang paling aku sayangi di dunia ini, ialah dia, Ibu.

image

——–
(Will be edited soon)

Advertisements