1Cinta, cinta, cinta. Menyusahkan, melelahkan, membinasakan. Namun mereka katakan bahwa ia membahagiakan, menenangkan, dan menghidupkan.

Fiksi-fiksi cinta sama sekali tidak menarik perhatiannya walaupun 1001 novel dari berbagai penulis dengan sampul yang lucu dihadirkan di hadapannya. Ia kehilangan seni menikmati cinta sehingga lupa bagaimana membalas sebuah pemberian dengan cara yang diharapkan mereka, para pecinta. Mungkin ia tersenyum dan bersikap manis, namun hatinya beku, telah lama kehilangan redup cahaya yang dulu masih terasa hangat. Bahkan membara. Sampai ia hilang akal, terbakar, tak bersisa.

Cinta, cinta, cinta. Sepertinya ia muak, mendengar seluruh keluhan tentangmu. Tangis, tawa, romantika, baginya semua itu tidak nyata. Hanya sementara. Menyusahkan, melelahkan, membinasakan. Hangus terbakar rasa lelah yang tercipta sendiri dalam pikir sempit dan tergesa. Lalu ia bisa apa? Si gagal yang sudah lama ia tak dapat runtuhkan bentengnya, tak ada yang akan mendengarnya. Walaupun begitu, ia tersenyum. Lalu menghela nafas untuk bersiap mengutarakan yang menurutnya benar,

“Entahlah, kau yang punya kehendak. Jika memang tidak pantas, tinggalkan saja. Hidupmu berhak untuk dihabiskan oleh hal yang lebih bermutu. Memang kau mau dibodohi oleh cinta? Selamanya?

Cinta, cinta, cinta. Jika memang sakit, maka tinggalkan.
Jika tidak bahagia, apakah ingin selamanya berduka?
Sesulit itukah, untuk melepaskan?
Cinta, cinta, cinta. Jika memang indah, maka pertahankan.
Jika merasa nyaman, apakah harus selamanya berdua?
Sesulit itukah, saling percaya?”

Mengapa si gagal ini banyak bicara, seperti ia ahli cinta ternama di dunia. Padahal perkataannya tercipta karena ia pernah kecewa. Bertahun, satu per-enam hidupnya, si gagal merasa kecewa hingga hanya diam dan tersenyum yang bisa ia kerjakan.

Ah! Tidak, tidak lagi! Si gagal ini sepertinya sudah menemukan pelabuhan. Setelah lama mengayuh dayung sendirian, dari jauh terlihat seseorang melambaikan tanganya bersemangat. Di pinggir bebatuan, menjorok ke laut, berdiri dengan gagah dan penuh keyakinan.

Si gagal sempat ragu, mungkin laki-laki itu melambaikan tangan pada seseorang selain dia. Mungkin seseorang di belakangnya. Entahlah, sesuatu yang bukan dirinya. Dulu ia merasakan yang sama, menerka-nerka, menganggap dirinya yang paling dicinta oleh masa lalunya. Namun akhirnya kecewa.

Si gagal menunjuk dirinya seraya bertanya,

“Aku? Aku yang kau maksud?”

“Ya! berlabuhlah di sini!”

“Kau? Kau mengharapkan aku hadir berlabuh untukmu?”.

“Ya! Hanya ada kau yang berada di hadapanku saat ini, dan aku berharap seterusnya. Mendekatlah! Berlabuhlah bersamaku, aku mungkin akan membuatmu kecewa, namun aku akan terus berusaha. Memerbaiki diriku, dan membuatmu kembali percaya pada cinta. Aku tidak akan memanggilmu ‘Si Gagal’, karena kita akan berhasil bersama. Mendekatlah!”

Terdiam sambil menunduk beberapa saat, ia mengangkat kepalanya, menatap laki-laki yang sedang menunggunya berbicara,

“Kau yakin? Bagaimana jika aku hanya akan membencimu? Aku sudah lupa semua hal mengenai cinta, kecuali satu, rasa kecewa yang telah terpatri ini.”

“Kau tidak merasa sakit?”, laki-laki itu menjawab dengan tanya.

“Aku harap tidak. Rasa sakit membuang waktuku. Aku tidak mau menjadi lemah dan terpuruk dalam rasa sedih dan bersalah. Kecewaku ini bukan salahku, bukan juga masa laluku. Ini pilihanku. Aku yang memilih untuk kecewa kepadanya. Ia tidak melukaiku sehingga aku merasa sakit. Aku… Aku hanya terlalu percaya dan berharap pada perkataan yang tidak seharusnya kudengar. Dan, aku… Aku terlalu pintar untuk tidak memertahankannya karena aku tahu aku tidak akan bahagia. Mengapa? Mengapa kau bertanya seperti itu?”

“Tidak. Aku hanya tidak menyangka bahwa kau memiliki luka yang begitu dal–“

“Luka? Luka, katamu? Ini bukan luka! Ini hanya goresan kecil dari masa laluku! Jika memang ini luka, mengapa tidak pernah ada yang berusaha untuk membebatnya… Bagaimana bisa, kau katakan… Bahwa ini luka?” Elak si gagal sambil menunduk menahan tangisnya.

“Mendekatlah, berlabuhlah denganku. Jika kau membenciku, aku akan membuatmu mencintaiku, perlahan. Jika lukamu belum terobati, kemarilah! Aku akan menjadi pembebat yang menyembuhkan goresan di hatimu. Mungkin kehadiranku akan sedikit perih karena aku akan membebat lukamu dengan erat, namun kau akan kembali pulih.

Maukah kau percaya padaku?”

Diam, si gagal hanya terdiam. Keheningan yang menjadi pembatas di antara mereka tiba-tiba hilang saat laki-laki itu mengangkat suara,

“Aku tahu kau lelah mengayuh dayung sendirian. Aku… Aku tahu kau butuh seseorang untuk berlayar bersama. Aku tahu–“

“Tidak!”, si gagal sedikit berteriak sambil menaikan jarinya menunjuk pelabuhan di depannnya, “Kau! Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku!”

Seutas senyum mengembang dari arah pelabuhan,

“Kalau begitu, berlabuhlah.”

Maka berlabuhlah ia dengan berbagai cerita untuk akhirnya. Mungkin ia hanya berlabuh untuk sementara, lelah, lupa, lalu pergi meninggalkan pelabuhannya untuk mencari rumah dan menetap selamanya. Mungkin ia akan berlabuh, merangkai cerita kehidupannya, merasa bahagia dan memutuskan untuk menetap selamanya, lalu mendirikan rumah di pelabuhan terakhirnya.

Cinta, cinta, cinta. Mungkin saat ini si gagal merasa bahagia walau ia masih berpikir bahwa bahagia ini hanya bertahan untuk sementara sampai ketika hatinya kelelahan. Menerka, mengharap dan meminta.

Cinta, cinta, cinta. Aku ingin bahagia dan membahagiakan.

Cinta dan cinta. Sekarang aku sadar bahwa bahagia tak selamanya selalu tersenyum.

Cinta. Bahagia saat aku tersenyum dan menangis karena, oleh dan dengannya.

Cinta, mungkin ketika aku dapat membahagiakannya 🙂

Advertisements