1

“Mengapa diam saja? Apa yang kau lakukan?”

“Mengenang lukaku”

“Kau gila..”

“Memang”, jawabku seraya kembali memandanginya. Memandang luka lamaku, yang tertata rapih di sudut kamar.

“Sudah berapa lama?”, Alex kembali bertanya.

“Aku menjadi gila?”

“Bukan. Sudah berapa lama kau mengenangnya?”

“Satu hari? Atau dua? Mungkin empat bulan… Tidak, enam bulan? Ah, sudahlah. Aku lupa. Setiap hari luka ini terasa baru dan tetap perih. Coba lihat di belakangku, apakah ada pisau dan darah segar yang mengalir? Hahaha… Bahkan aku lupa jika luka ini nyata atau tidak, Alex.”

“Kalau begitu..”, Alex berjalan ke sudut kamar “..berhentilah mengenangnya” lalu mengambil bingkai fotoku dan membuangnya ke tempat sampah “karena kau bisa gila. Dan aku hanya berteman dengan orang waras”

“Kau yang gila. Sekarang apa? Kau akan membuang semua barang di kamar ini lalu hanya menyisakan kasur, meja belajar dan lemariku?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s