“Mengapa diam saja? Apa yang kau lakukan?”

“Mengenang lukaku”

“Kau gila..”

“Memang”, jawabku seraya kembali memandanginya. Memandang luka lamaku, yang tertata rapih di sudut kamar.

“Sudah berapa lama?”, Alex kembali bertanya.

“Aku menjadi gila?”

“Bukan. Sudah berapa lama kau mengenangnya?”

“Satu hari? Atau dua? Mungkin empat bulan… Tidak, enam bulan? Ah, sudahlah. Aku lupa. Setiap hari luka ini terasa baru dan tetap perih. Coba lihat di belakangku, apakah ada pisau dan darah segar yang mengalir? Hahaha… Bahkan aku lupa jika luka ini nyata atau tidak, Alex.”

“Kalau begitu..”, Alex berjalan ke sudut kamar “..berhentilah mengenangnya” lalu mengambil bingkai fotoku dan membuangnya ke tempat sampah “karena kau bisa gila. Dan aku hanya berteman dengan orang waras”

“Kau yang gila. Sekarang apa? Kau akan membuang semua barang di kamar ini lalu hanya menyisakan kasur, meja belajar dan lemariku?”

Advertisements