Search

Little Deduction

Deducting the Story of Mine

Sebuah Semoga

Terima kasih telah bertanya, apakah saya baik-baik saja. Sungguh, pertanyaan yang tidak diduga. Tentu saja tidak, namun barang pasti saya menjawab iya. Memang, buat apa? Saya tidak mengharap iba, pun belas kasih seikhlasnya.

Doakan saja. Semoga.

Saya benar,

baik-baik saja 🙂

Advertisements

Masygul

We, each, find another us, guarding the ocean, keeping the fire. Only finding, without greeting. That might turn each of us blind, bleed, even push us to destroy ourselves. We are forced to ensure one of us keep alive in our realm. Yours, or mine.

We couldn’t cross either mine or your realm, in parallel. We couldn’t be in the same realm. Except one thing. Dream.

Universe will never allow. We have to follow the rule. May be we can formulate some equation to fool the eye, not the heart. So, why we keep believing we can be together? This condition is the best thing we have. Fall to each other is a gift. Asking for more is a greed. But, we know us. We are made to rebel.

One thing we know. We move together. We are done. Together.

 

Orbitrase

Aku ingin

Malam gelap yang biasanya

Datang lagi

Biar aku

Merindu

Planet Mars

Kemarau Tapi Hujan, Penghujan Tapi Panas

Ketuhanan Yang Maha Esa.

Begitulah kira-kira bunyi sila pertama dasar negara.

Negara beragama.

Aku hanya ingin bertanya, bagaimana jika Tuhan yang dimaksud dalam suatu agama adalah dewa-dewa? Maksudku, politeisme. Apakah Ketuhanan Yang Maha Esa berarti monoteisme murni atau yang penting beragama?

Tapi siapa yang bisa kutanya?

Bahkan aku malu menanyakannya di sini.

Simalakama yang Tidak Simalakama

Jarum jam menunjukkan waktu makan malam dimulai. Tapi di hadapanku tidak ada apapun kecuali meja kaca, satu piring keramik, dan sebuah mug. Tidak biasanya meja begitu lengang. Lalu aku mengintip dapur. Tidak ada siapa pun. Aku berdiri, melangkah setengah gontai karena lapar menuju dapur. Kubuka lemari es, hanya ada tiga botol air tanpa air. Tapi apakah biasanya terisi air aku tidak tahu. Aku lupa. Aku menuju kompor. Di atasnya tidak ada wajan atau panci. Aku buka semua lemari bahan makanan dan hanya melihat satu butir telur. Telur cicak.

Tidak. Aku tidak se-putus asa itu sampai harus makan telur cicak. Aku akan merawatnya, sampai ia cukup umur untuk disembelih.

Memetik Sendiri

Di taman bunga, aku dipetikkan bunga berwarna kuning. Putiknya coklat. Disematkan bunga itu di telingaku. Siapa? Tak nampak orang lain selain aku.

Dilarang Makan dan Minum Berdiri

Seringkali orang-orang memikirkan dirinya sendiri. Disadari maupun tidak. Menceritakan dirinya sendiri pada orang lain. Menceritakan rahasia-rahasianya. Kebodohannya. Apapun itu yang membuat dirinya senang mendengar. Dirinya sendiri. Meskipun sebenarnya seseorang tidak bermaksud demikian. Semua orang seperti itu. Mungkin ada sebagian orang yang jarang mengungkapkan dirinya. Tapi pada beberapa momen, satu, dua, tiga kali, ada saja yang terucap tentang dirinya sendiri.

Tapi bisa jadi apa yang diucapkan seseorang tentang dirinya sendiri adalah tipuan. Bukan untuk membodohi lawan bicara maksudnya. Ada banyak hal. Misalnya mengisi ingatan yang sebenarnya kosong, atau sarkas, bahkan hanya untuk bercanda. Kadang ada yang dapat menerima, ada juga yang acuh tak acuh. Mungkin sebagian dari kita muak dengan yang seperti itu. Tapi kita harus sadar bahwa kita terlalu sering membicarakan diri kita sendiri pada beberapa orang. Mungkin semua orang.

Rahasia terbesar yang paling sulit tidak diungkapkan adalah rahasia tentang diri sendiri.

Pretending isn’t Easy

It turns out hard.

Crying by the night, smiling by the day only to entertain those who don’t understand. Or, yet.
But there’s one certain thing; the pain lies within the smile. Even ear to ear the lips starts to stretch, it can’t be hidden.

Just like one of Bryan Adams’ songs, “look into my eyes, and you will see“, and yes, it is. I take a second look the photos which was taken yesterday, and wow. My eyes say it all.

The way it looks tired, the way it carries something heavy, the way it tries so hard to hide the reality, the way it pretends… to be okay.

Its okay to be not okay, they said.

But it doesn’t feel right in the state of not okay. You always know something has to get repaired, ASAP. And you know you have no strength to pretend any longer.

Self-Price Tagging 

Have you ever wonder if you are on a sale, how much the shop would write your price on your tag? A dollar? Only few pennies? Or worth a thousand times than a diamond?Today I learned how people ‘price’ themselves. Some take it as a joke because the you only live once tagline is misleading their life HA HA but the others can’t even calculate how much their price would be because they are so expensive in their head.

Let’s work out a little with our imagination.

You’re in a rush to somewhere because you’re almost late. You only, no, you STILL have fifteen minutes left. If you cant make it thru the time, the consequences are; first, you can’t get into the place with usual access so then, the second, you have to take another way that’s not so far from the first one.

For me, that’s fine. Its not like you have to climb the hill, dive the ocean or break the wall. You just have to do a u turn and take another step. Thats it.

But some people dare to risk their life just to reach something that will never be more important than their life. Yes, their life. They risk their life by thinking “Oh no I cant be late so I’ll just drive as fast as I can. Only hell cares about people inside the vehicle I’m driving. I’m a pro. I f you cant trust me you can just leave.” so they drive higher than 100kmh in a freaking busy street. I think itssa smart way to become stoopid.

Oooverall. We, indeed, are having different views, especially in treating our-very-own-selves. I’m not blaming the stupid  second type, but I strongly hate it. Because. You. Only. Live. Once. So. You. Have. To. Value. You. Life. More. Remember it? Once.

So, which type you think suitable for yourself? 

00.53 AM

Jakarta, 18 July 2016

(ditulis ketika luar biasa kesal)

Blog at WordPress.com.

Up ↑