Search

Little Deduction

Deducting the Story of Mine

13

Advertisements

Kenapa, ya?

Kamu tahu, Tuan?

Kalau bahas cinta,

Aku mual.

Lagniappรฉ

Saya ingin bercerita tentang hari ini —lebih tepatnya kemarin, karena semalam tulisannya belum selesai–. Semoga ada manfaatnya, ya! Jika tidak ada, ya sudah, mohon maaf telah membuat delapan menit yang dapat kamu habiskan untuk menyelesaikan skripsi terbuang begitu saja. Hahaha. Skripsi. ๐Ÿ˜ฅ

Hari ini saya memutuskan untuk ke UI, menyaksikan prosesi penyerahan baton estafet dakwah di kampus yang lumayan saya cintai, dalam acara Memoar. Kenapa namanya Memoar? Mana saya tahu. Saya kan tempe.

Dengan niat “Berangkat sehabis sholat dzuhur aja ah!” dan informasi seadanya (karena hanya sekilas baca publikasinya), ndilalah saya baru berkesempatan meninggalkan rumah pukul 13:20. Ndilalah-nya lagi ban motor saya kempes. Tidak mau tau apakah bocor atau hanya kurang angin, intinya saya enggan membawa motor ke tukang tambal ban karena suhu udara cukup tinggi walaupun sedikit mendung. Alhasil, saya memilih menggunakan motor yang nganggur di rumah, padahal keberadaan stnknya tidak diketahui di mana (kemungkinan besar disimpan Abi). Di perjalanan, dalam hati bergumam, “Masih aman. Acaranya sampai 14:30″. Iya, saya hanya memikirkan waktu, perkara stnk saya serahkan saja kepada yang Maha Kuasa. Tolong aim ya Allah.

Sampai di UI, tepatnya FEB UI, saya parkir seperti biasa, namun entah kenapa, saya juga bingung, saya tiba-tiba ingin parkir melintang, menutupi jalan keluar jajaran beberapa motor (ngerti gak?). Selesai parkir, saya bergegas menuju auditorium. Saat melewati depan pos parkir, Pak Satpam tampak khawatir,

“Mbak, motornya dikunci stang ga?”

“Enggak, Pak.”

“Oke deh. Oiya, Mbak, itu parkiran dosen dan karyawan. Kalau mahasiswa di sebelah sini.”, kata Pak Satpam sambil mengangkat tangannya, menunjuk papan berbentuk panah ke kanan dan kiri dengan tulisan ‘Mahasiswa’ di sebelah kiri dan ‘Dosen & Karyawan” di sebelah kanan.

Mbelgedhes!

Astagfirullah… Saya ga pakai kaca mata, Pak, jadi ga liat.”, jawab saya malu. Super malu. “Saya pindahin dulu ya Pak”

“Ga usah, Mba. Gapapa.”

Alhamdulillah. Kemudian saya bergegas menuju auditorium sambil membuka aplikasi pesan instan, menanyakan teman saya duduk di sebelah mana, supaya tidak keki dan celingak-celinguk ketika sampai.

Kok sepi, ya? Tumben.” Yang saya temukan mahasiswi-mahasiswi yang duduk di depan ruangan, pakai jas dan kemeja rapih, sibuk merapal sesuatu yang ada di laptop di hadapannya. Menunggu giliran sidang skripsi sepertinya. Wah, skripsi. ๐Ÿ˜ฅ

Sampai di depan auditorium, yang sungguh sepi. Bahkan pintunya tertutup rapat. Tidak ada tanda-tanda manusia di dalamnya. Saya seketika mengecek kembali publikasi acara tersebut, namun kali ini dengan teliti.

Ya Allah ya Rabbi. FIB, Yasmin. Bukan FEB.”

Kemudian saya terkekeh sepanjang jalan menuju parkiran. Sambil menahan malu dua kali lipat daripada tiga menit sebelumnya.

Wah, Mbak, kok cepet? Udah selesai?”

Hahahahaha saya salah tempat, ternyata bukan di FEB. Hahahaha.” (Ini beneran sambil ngakak)

Oh my God! Memang acaranya di mana, Mbak?”, Pak Satpam balik bertanya seraya ngikik dengan rekannya. Dan si Bapak benar-benar berkata ‘oh my God‘ penuh penekanan.

FIB, Pak. Hahahahahahah.”

Hahaha iya, ya, wajar, Mbak. Beda i dan e.”

“Itu dia, Pak! Hahahahah. Saya ke FIB dulu ya, Pak. Terima kasih banyak”, akhirnya saya pamit, masih sambil tertawa dan senyam-senyum karena benar-benar malu. Siapa sangka saya se-ceroboh ini? Hahaha.

Karena saya tidak tahu parkir motor FIB di mana –karena biasanya jalan kaki dari FH–, saya parkir di FISIP. Tenang, kali ini tidak melintang. Baru saja memasukkan kunci motor ke dalam tas di dekat pos parkir, saya mendengar Pak Satpam,

Parkir di sastra (re: FIB) aja, Pak, kalau mau ke sana. Aman kok.”

Saya yang juga bertujuan ke sana hanya bermodal senyum saat ingin ke luar tempar parkir.

Mbak”, Ucap satu dari tiga Satpam yang berjaga.

Ya, Mas?” (Ini benar-benar sambil senyum, atau mungkin lebih tepatnya meringis karena dalam hati dan pikiran saya, saya sedang menepuk dahi sambil berkata, “Waduh kena tanya nih awak”.) (((Saya panggil mas karena memang masih muda lho. Bukan siasat supaya lolos.)))

“Mbak mau ke mana?”

“Ke sastra juga sih, Mas. Gedung sembilan.”

“Yaudah, nanti pas keluar kasih liat sntk, ya!”. Ingin bilang “Alhamdulillah, oke, Mas”, namun sayangnya saya tidak bawa stnk ๐Ÿ™‚

Saya ga bawa stnk motor yang ini, Mas. Yang kebawa sntk motor lain.”

Tiba-tiba dua petugas yang lain rebutan angkat bicara. “Yaaah. Kan yang mau diperiksa stnk motor yang Mbak pakai”, “Iya, bukan stnk yang lain, Mbak”.

Hadeh malih. Keburu bubar nih acara.

Puji syukur ke hadirat Allah, petugas yang sedari awal menanyai saya angkat bicara,

“Hmm, kalau gitu nanti kasih liat KTM aja. Bawa KTM-nya, kan?”

“Bawa, dong! Saya langsung ke sana boleh ya, Mas? Terima kasih.”

Melenggang bahagia ke arah FIB, ternyata petugas yang mengizinkan saya mendapat kritik dari rekannya,

Kalau perempuan aja lu kasih! Bapak-bapak lu usir..”

“Ya, kan kasihan masa disuruh bulak-balik?”, bela petugas yang baik hati yang disambut sorak-sorai bergembira rekannya, in a sarcastic way. Hehehe.

Sesuai ekspektasi pemirsa, saya sampai ketika memoar closing ๐Ÿ™‚ tepatnya sedang sesi foto PI Salam dengan Pak Arman ๐Ÿ™‚ ๐Ÿ™‚ waw, menarik! Setidaknya saya belum melewatkan sesi doa, sehingga tetap ada secuil momen untuk mengharap berkah-Nya bagi perjuangan menahan malu saya sepanjang jalan FEB ke FIB (padahal mah deket๐Ÿ™ˆ).(foto bersama pasukan Serambi. Wow. Ramai gilerr. ๐Ÿ™ˆ)

Selesai acara, saya tidak sengaja bertemu dengan sahabat di masa SMP saya, Annisa Khurrohmah, yang ternyata salah dress code! Hahaha. Semua manusia memakai putih-biru, Kaha satu-satunya yang memakai cokelat dari atas sampai bawah. Hahahahaha.

Saya salah lokasi, Kaha salah baju. Takdir benar-benar lucu, ya?

Nah, kira-kita seperti itu kisah saya kemarin siang menjelang sore. Mungkin syndrome terlalu lama di rumah (ngarang) dan interaksinya sebatas pada keluarga, kasir carefour, pramusaji ichiban dan abuba. Hahaha. Padahal kalau menilik hidup saya sebelum libur semester, intensitas keluarga saya berkumpul tu sikit sangat tau! Tak boleh tahann ๐Ÿ™ˆ

Sebagai penutup, setiap apa yang ditakdirkan Tuhan untuk hambanya jalani, jika dilihat lebih dekat dan dirasakan lebih dalam, sesungguhnya sarat akan makna. Walaupun sejatinya tidak semua takdir terasa ringan dan sedap untuk dinikmati, setidaknya pasti bisa untuk ditertawakan, dan disyukuri.

Alhamdulillah.

Cerita Ramona 1.0

Ramona is back! Yes, it has been forever, I know.

But there she was, near the drawer in her room debating about something.

Yang Spesial – d a r i m u

Baru sadar. Ternyata ketika sudah menjadi bagian sehari-hari seseorang, kita bisa jadi tak lagi dianggap spesial. Dapat dikatakan, tidak masuk kategori manusia yang setiap momen bersamanya patut dijadikan highlight. Terlalu sering bersama, kemana-mana bersama, sampai terbahak atas kebodohan masing-masing bersama, sampai-sampai tidak ada kejenuhan lagi di antaranya. Sudah jadi rutinitas sepertinya.

Setelah berkontemplasi akan sudden thought ini sejak bangun tidur pertama di 2018, tiba-tiba muncul pertanyaan, “Lantas bagaimana Tuhan selama ini menganggap amalan hambanya yang super hambar ini?”

“Mbelgedhes hambaku yang satu ini! Sudah dikasih nikmat melimpah, ndilalah ibadahnya seperti sayur pakai bumbu pas-pasan. Anyep.”, seketika aku takut Tuhanku ngomel dan ngedumel seperti ini karena hambanya dalam beribadah hanya seadanya dan sesempatnya (tidak terlepas dari sifat absolut-Nya yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana).

Dulu, di perjalan menuju sekolah, setelah mendengarkan keluhanku tentang teman-teman sekelas, sambil serius mengendarai mobil Abi memberi wejangan,

Murid yang namanya dihafal oleh guru itu cuma ada dua, Yas. Kalau gak pinter, dia pasti bandel. Terserah kamu mau dihafal karena apa sama Bu guru di sekolah. Jangan lupa juga, murid yang biasa-biasa saja akan sulit guru ingat namanya.

Bu guru di sekolah yang muridnya hanya ratusan saja begini. Bagaimana dengan Tuhanku yang hambanya berjuta-juta-juta-juta-juta kali lebih banyak dari murid di sekolah?

Mungkinkah namaku dihafal Tuhan, dikenal oleh langit dan didoakan oleh seluruh alam semesta jika amalanku begitu-begitu saja? Mungkinkah amalan hambar tidak sedap ini mengantarkanku pada surga-Nya?

Mungkin aku harus berhenti jadi hamba yang biasa-biasa saja. Mungkin aku harus keluar dari belenggu keengganan ini; mengusahakan sesuatu yang spesial dariku untuk mendapat perhatian-Nya.

Meski berat, namun yang spesial akan selalu memiliki ruang khusus dalam sebuah hati.

Selamat berbenah diri! ๐Ÿ––๐Ÿป

Depok,

12 Rabiul Akhir 1439 H

28

Memang kalau lelah,

kenapa?

Bukankah yang penting lillah?

Sebuah Semoga

Terima kasih telah bertanya, apakah saya baik-baik saja. Sungguh, pertanyaan yang tidak diduga. Tentu saja tidak, namun barang pasti saya menjawab iya. Memang, buat apa? Saya tidak mengharap iba, pun belas kasih seikhlasnya.

Doakan saja. Semoga.

Saya benar,

baik-baik saja ๐Ÿ™‚

Masygul

We, each, find another us, guarding the ocean, keeping the fire. Only finding, without greeting. That might turn each of us blind, bleed, even push us to destroy ourselves. We are forced to ensure one of us keep alive in our realm. Yours, or mine.

We couldn’t cross either mine or your realm, in parallel. We couldn’t be in the same realm. Except one thing. Dream.

Universe will never allow. We have to follow the rule. May be we can formulate some equation to fool the eye, not the heart. So, why we keep believing we can be together? This condition is the best thing we have. Fall to each other is a gift. Asking for more is a greed. But, we know us. We are made to rebel.

One thing we know. We move together. We are done. Together.

 

Orbitrase

Aku ingin

Malam gelap yang biasanya

Datang lagi

Biar aku

Merindu

Planet Mars

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑