Search

Little Deduction

Deducting the Story of Mine

Return

So long, Tuan.

Since the last time I saw that smile.

Now I know what I miss the most.

🙂

Advertisements

13

Yang Spesial – d a r i m u

Baru sadar. Ternyata ketika sudah menjadi bagian sehari-hari seseorang, kita bisa jadi tak lagi dianggap spesial. Dapat dikatakan, tidak masuk kategori manusia yang setiap momen bersamanya patut dijadikan highlight. Terlalu sering bersama, kemana-mana bersama, sampai terbahak atas kebodohan masing-masing bersama, sampai-sampai tidak ada kejenuhan lagi di antaranya. Sudah jadi rutinitas sepertinya.

Setelah berkontemplasi akan sudden thought ini sejak bangun tidur pertama di 2018, tiba-tiba muncul pertanyaan, “Lantas bagaimana Tuhan selama ini menganggap amalan hambanya yang super hambar ini?”

“Mbelgedhes hambaku yang satu ini! Sudah dikasih nikmat melimpah, ndilalah ibadahnya seperti sayur pakai bumbu pas-pasan. Anyep.”, seketika aku takut Tuhanku ngomel dan ngedumel seperti ini karena hambanya dalam beribadah hanya seadanya dan sesempatnya (tidak terlepas dari sifat absolut-Nya yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan Maha Bijaksana).

Dulu, di perjalan menuju sekolah, setelah mendengarkan keluhanku tentang teman-teman sekelas, sambil serius mengendarai mobil Abi memberi wejangan,

Murid yang namanya dihafal oleh guru itu cuma ada dua, Yas. Kalau gak pinter, dia pasti bandel. Terserah kamu mau dihafal karena apa sama Bu guru di sekolah. Jangan lupa juga, murid yang biasa-biasa saja akan sulit guru ingat namanya.

Bu guru di sekolah yang muridnya hanya ratusan saja begini. Bagaimana dengan Tuhanku yang hambanya berjuta-juta-juta-juta-juta kali lebih banyak dari murid di sekolah?

Mungkinkah namaku dihafal Tuhan, dikenal oleh langit dan didoakan oleh seluruh alam semesta jika amalanku begitu-begitu saja? Mungkinkah amalan hambar tidak sedap ini mengantarkanku pada surga-Nya?

Mungkin aku harus berhenti jadi hamba yang biasa-biasa saja. Mungkin aku harus keluar dari belenggu keengganan ini; mengusahakan sesuatu yang spesial dariku untuk mendapat perhatian-Nya.

Meski berat, namun yang spesial akan selalu memiliki ruang khusus dalam sebuah hati.

Selamat berbenah diri! 🖖🏻

Depok,

12 Rabiul Akhir 1439 H

Sebuah Semoga

Terima kasih telah bertanya, apakah saya baik-baik saja. Sungguh, pertanyaan yang tidak diduga. Tentu saja tidak, namun barang pasti saya menjawab iya. Memang, buat apa? Saya tidak mengharap iba, pun belas kasih seikhlasnya.

Doakan saja. Semoga.

Saya benar,

baik-baik saja 🙂

Masygul

We, each, find another us, guarding the ocean, keeping the fire. Only finding, without greeting. That might turn each of us blind, bleed, even push us to destroy ourselves. We are forced to ensure one of us keep alive in our realm. Yours, or mine.

We couldn’t cross either mine or your realm, in parallel. We couldn’t be in the same realm. Except one thing. Dream.

Universe will never allow. We have to follow the rule. May be we can formulate some equation to fool the eye, not the heart. So, why we keep believing we can be together? This condition is the best thing we have. Fall to each other is a gift. Asking for more is a greed. But, we know us. We are made to rebel.

One thing we know. We move together. We are done. Together.

 

Orbitrase

Aku ingin

Malam gelap yang biasanya

Datang lagi

Biar aku

Merindu

Planet Mars

Kemarau Tapi Hujan, Penghujan Tapi Panas

Ketuhanan Yang Maha Esa.

Begitulah kira-kira bunyi sila pertama dasar negara.

Negara beragama.

Aku hanya ingin bertanya, bagaimana jika Tuhan yang dimaksud dalam suatu agama adalah dewa-dewa? Maksudku, politeisme. Apakah Ketuhanan Yang Maha Esa berarti monoteisme murni atau yang penting beragama?

Tapi siapa yang bisa kutanya?

Bahkan aku malu menanyakannya di sini.

Simalakama yang Tidak Simalakama

Jarum jam menunjukkan waktu makan malam dimulai. Tapi di hadapanku tidak ada apapun kecuali meja kaca, satu piring keramik, dan sebuah mug. Tidak biasanya meja begitu lengang. Lalu aku mengintip dapur. Tidak ada siapa pun. Aku berdiri, melangkah setengah gontai karena lapar menuju dapur. Kubuka lemari es, hanya ada tiga botol air tanpa air. Tapi apakah biasanya terisi air aku tidak tahu. Aku lupa. Aku menuju kompor. Di atasnya tidak ada wajan atau panci. Aku buka semua lemari bahan makanan dan hanya melihat satu butir telur. Telur cicak.

Tidak. Aku tidak se-putus asa itu sampai harus makan telur cicak. Aku akan merawatnya, sampai ia cukup umur untuk disembelih.

Memetik Sendiri

Di taman bunga, aku dipetikkan bunga berwarna kuning. Putiknya coklat. Disematkan bunga itu di telingaku. Siapa? Tak nampak orang lain selain aku.

Blog at WordPress.com.

Up ↑